NGUKUR_DALAN (2)

Saat menulis kisah ini kami sedang berada di Angkringan SopoNgiro di Wonogiri. Kami menginap di rumah Mas Norman dan Mbak Dewi. Senangnya menjalankan project ini adalah kita bisa singgah ke rumah teman-teman, silaturrahim, dan 'menyerap' ilmu keluarga yang hanya bisa diperoleh saat ngobrol atau tacit. Setiap keluarga ternyata memiliki keunikan masing-masing.


Pertama kami singgah di rumah teman di Garut yang baru kami kenal via medsos dan baru berjumpa saat itu. Namanya Euis Fatma dan Ust. Dudin. Meskipun baru kenal dan pertama berjumpa, kami pernah bersinggungan saat menjadi Team Khidmat Daarut Tauhid. Keluarga ini punya misi membersamai anak yatim yang diwujudkan dengan membangun rumah 3 lantai untuk tinggal bersama anak-anak yatim binaan mereka. Wow! Very inspiring... Yang unik pula, keluarga ini selalu minta maaf (yang langsung mengingatkan saya pada tokoh Bu Minah di sinetron Bajaj Bajuri) dengan tulus kalau-kalau kami kurang nyaman tinggal disana. Ternyata, sikap tersebut adalah salah satu 'pencucian jiwa' untuk memperoleh pertolongan Allah. Dan saya juga baru 'ngeh' kenapa salah satu jawaban dari ucapan terima kasih dalam bahasa Arab (jazzakallah) adalah afwan (maaf, yang diartikan sama-sama), karena si pengucap merasa apa yang telah ia berikan kepada sang tamu masih kurang. Seharusnya sang tamu medapatkan lebih dari apa yang telah ia berikan. Hikmah dari keluarga ini bagi kami adalah: service excellent.

Berikutnya kami menuju ke Banjar ke kediaman Rumah Soka, kang Jaja dan Te Artri. Nah, kali ini kami tinggal bersama keluarga pebisnis. Kang Jaja dan Te Artri saat ini mengelola toserba Pajajaran dan jaringannya. Meskipun sibuk bekerja mengurus toko, mereka masih bisa bermain bareng anak-anak. Bahkan dibawa ke kantor saat kerja. Nah, itu enaknya kalau kerja di rumah. Ini makin memberi semangat untuk segera punya usaha sendiri, to-sotto Mlethik. Ganbatte! Kang Jaja yang berlatar belakang Teknik Mesin mesti belajar otodidak untuk mengelola jaringan toko ini. Setelah memperoleh pengetahuan dan menerapkan, ia tidak menyimpan untuk dirinya sendiri. Keluarga muda dengan 3 anak ini menyediakan ruang khusus di lantai 3 untuk komunitas secara gratis. Lengkap dengan pendingin udara dan audio vsiual. Keren kan? Sudah banyak komunitas yang bergabung memanfaatkan ruangan ini. Nanti komunitas PERAK juga akan menjadi salah satunya. Di ruangan ini pula kang Jaja memberikan pelatihan untuk para UKM. PolJa_by_Noor sempat pula membuka kelas pola dan jahit disini. Saya pun kebagian presentasi tentang family Branding dengan ibu-ibu dari Komunitas Sekolah Ibu. Dari keluarga Rumah Soka ini kami belajar tentang aplikasi berbagi.



Esoknya kami menuju Ajibarang - Banyumas ke rumah keluarga Pelem Kalih. Lucu ya namanya... Pelem Kalih artinya dua mangga, karena di depan rumah ada 2 pohon mangga. Brand ini pun dijadikan nama keluarga oleh Mas Indra dan Mbak Linda. Jauh-jauh hari Mbak Lindah memberitahu anaknya, Naura, akan kedatangan kami. Si Naura pun antusias bertemu, bahkan mengeluarkan semua mainannya untuk menarik perhatian. Senang memang bermain bersama anak-anak.


Mbak Linda punya komunitas Mom Schoolers, dan bersama komunitas ini kami berbagi dengan anak-anak yatim dari Panti Asuhan Putri Aisyiyah. Ternyata, ini adalah salah satu program keluarga Pelem Kalih selama bulan Ramadhan 1439 H. Program ini adalah aplikasi yang telah dibuat selama mengikuti PERAK 2018 di Batu, Malang. Hmm..dari keluarga ini kami memetik hikmah tentang: konsistensi.


Tujuan berikutnya kami menuju Purworej, dan Jogyakarta. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap perjalanan, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bahkan kehidupan kita sendiripun adalah perjalanan menuju keabadian. Jadi, kita semua adalah traveller...


... bersambung ...

33 views0 comments

Recent Posts

See All