KESAN PERAK PARI (5): GERAK

GERAK atau Generasi Remaja PERAK tercetus saat event PERAK ketiga yang diselenggarakan di Dolan Deso, Kulon Progo tahun 2016. Saat itu anak-anak tanggung pre-aqil baligh - eranya Elan, Syafiq, Fauzi, dan Azza - menuntut untuk memiliki kegiatan sendiri dan mandiri. Oleh, Kadus saat itu, keluarga Udi, mereka dilibatkan dalam team dokumentasi dan membuat video dan berinteraksi dengan orang-orang kampung sekitar. Di ujung acara, mereka mempresentasikan karya yang dihasilkan. Di event-event PERAK berikutnya, mereka makin percaya diri menyusun skenario dan membuat video, bahkan di PERAK Batu - Malang 2018 membuat acara permainan dan games yang bisa diikuti oleh semua peserta.


Di PERAK dusun Pari, GERAK beranggotakan sekitar 17 anak. Kali ini didominasi oleh perempuan, termasuk ketua genk-nya, Aisyah El. Beberapa baru mengikuti kegiatan ini dan tergabung di GERAK, misalnya Eiffel dari Lampung, Firas dari Jogya-wanna be, Fatimah El dan Aisyah El dari Payakumbuh (yang terakhir meskpiun baru bergabung, namanya sudah bergaung dimana-mana), sebagian lagi sudah saling kenal dan sering bersua. Qaulan, Caca, dan Asya tiap tahun rutin bertemu di ajang PERAK, bahkan kerap bertemu dan berkegiatan bareng di luar acara tersebut. Saat ini pun Qaulan sedang berada di rumah mereka di Jambi. Di GERAK, yang baru bergabung atau yang sudah lama mudah berbaur dan enjoy berkegiatan bersama. Lihat saja, saat waktu luang dan rehat dari kegiatan di pulau, mereka terlihat asyik sambil ketawa-ketiwi main UNO dan permainan tepuk lalat.



Ada beberapa pilihan aktifitas di pulau ini, antara lain: eksplore pohon bakau, eksplore tentang bintang laut, berburu sunrise atau sunset, dan snorkling. malam hari mereka rapat dan mereka menyusun itinerary dan aktifitas sendiri untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Sehari sebelumnya, sebagian team GERAK sudah berada di pulau untuk melihat kondisi tempat-tempat yang akan dikunjungi dan dieksplore.


Snorkling adalah mandatory di dalam list kegiatan mereka. Jauh-jauh hari mereka sudah merencanakan dan menginformasikan kegiatan ini ke group. Spot snorkling berada di sebelah selatan pulau dengan jarak tempuh perahu sekitar 15 menit perjalanan. Pagi-pagi sehabis sarapan keesokan harinya, mereka berkumpul dan menyimak briefing dari pemandu lokal. Pas, cuaca di sekitar pulau Pari cerah dan mendukung untuk berenang dan menyelam. Meskipun, beberapa anak terkendala dengan kacamata selam yang kendor, mereka masih bisa menikmati dan memotret ikan-ikan yang berseliwerandan keindahan bawah laut. Juga berpose mngapung dengan formasi lingkar.


"Menyenangkan!", ujar mereka serempak.


Di sepanjang tepi pantai pulau Pari dan di depan tenda-tenda peserta berdiri banyak tumbuh tanaman bakau atau mangrove yang masih kecil. Di ujung sebelah kiri sudah banyak pohon bakau yang tumbuh lebat. Tanaman bakau ini sengaja ditanam penduduk untuk mencegah abrasi pantai dan sebagai habitat hidup dan sumber makanan beberapa satwa. Sering melihat beberapa burung melintas atau bertengger di sana. Menurut team GERAK, pohon bakau memerlukan waktu hampir 10 tahun untuk tumbuh besar dan lebat.  Sayangnya, masih ada sampah yang terjerat diantara akar-akarnya. Mungkin berasal dari tengah laut yang terhempas ke pantai.


Sore hari mereka mengeksplore pantai bintang. Pantai yang juga bersih dan dipayungi pepohonan pinus ini terletak sekitar 1 - 2 km dari tenda. Bisa dijangkau dengan jalan kaki atau menyewa sepeda. Team GERAK menyewa motor VIAR untuk mengangkut rombongan ini. Biar sekalian keangkut, he..he.. Dinamakan pantai Bintang karena lokasi tersebut adalah terumbu karang habitat bintang laut. Ada gedung penelitian LIPI juga disana yang khusus meneliti hewan tersebut.


Kali ini mereka tanpa pemandu lokal, dan mengeksplore sendiri pantai dan berburu bintang laut yang mudah ditemukan. Meskipun mudah diambil mereka dilarang membawa pulang hewan invertebrata tersebut. Dari pengamatan dan mencari literatur via google, mereka mengetahui bahwa hewan golongan filum Echinodermata ini berkembang biak dengan bertelur, memiliki mata di setiap ujung lengannya, dan memilikikemampuan untuk regenerasi jika lenganya buntung.


Hmm...menarik, ya...



Kalau liburan di pantai atau di gunung, moment yang juga diburu adalah fenomena sunrise atau sunset. Pemandangannya menakjubkan, mengingatkan kebesaran Tuhan. team GERAK pun tak ketinggalan berburu 'matahari bangkit' ini. Pagi-pagi di hari terakhir - kesiangan sih, sebenarnya, he..he.. - mereka sudah berkumpul dan bersiap berburu. Entah berlokasi dimana, namun mereka sempat kecewa karena sang mentari tertutup awan. Pagi itu langit memang sedikit tertutup mendung. Tapi, gelora anak muda pantang menyerah. Tetap mereka menunggu, dan...akhirnya sang mentari pun muncul di ufuk. Bersiluet-siluet-lah mereka, mengabadikan moment. Serunya... Asyik ya, aktifitas team GERAK. Ayoo...siapa mau ikutan lagi di PERAK berikutnya? Cung!


Anak-anak seusia mereka membutuhkan kepercayaan dari para orang dewasa untuk menentukan jalan atau aktifitasnya sendiri secara mandiri.. Tanpa perlu dirongrong, tak pula didoktrin, apalagi di-kepo-in. Saat kepercayaan itu diperoleh, tumbuh rasa percaya diri dan itu membuatnya senang dan bahagia. Ketika mereka melakukan aktifitas dengan bahagia, lebih mudah bagi kita melihat potensi dirinya.


Di film-film petualangan, pulau kecil biasanya identik dengan tempat harta karun tersimpan. Di pulau Pari ini - selama 3 hari 2 malam - harta karun pun tersimpan. Bukan dalam bentuk emas permata, namun pada bagaimana anak-anak kita bisa percaya diri dan bahagia.


Sudahkah ayah-bunda temukan?



(bersambung)

55 views0 comments

Recent Posts

See All