KESAN PERAK PARI (2): TANTANGAN

Dusun Pari adalah kegiatan PERAK yang pertama kali diadakan di pesisir pantai. Di sebuah pulau lagi, yang mesti ditempuh dengan perahu selama 2 jam. Wuihh! Ini pasti menjadi sebuah tantangan yang membuat hati ketar-ketir, terutama bagi Pak/Bu Kadus keluarga Beniq. Untung saja, mereka didampingi buddy keluarga SopoNgiro yang titi-teliti, mengecheck detail setiang langkah persiapan dan perlengkapan. Perasaan kuatir itu bahkan mampu mengumpulkan para kadus dan sokadus PERAK di Salatiga untuk melakukan briefing persiapan acara, antisipasi, dan melakukan manajemen kebahagiaan awal Maret lalu. Namun, ada juga keuntungan menjadi yang pertama melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu memiliki lebih banyak pilihan ide dan lebih leluasa mengeksekusinya karena belum ada contoh sebelumnya. Dan, bisa jadi ide dan kegiatan tersebut menjadi benchmark buat penyelenggaran event lain yang mirip.


Menjadi pioner memang tidak gampang karena mesti merintis jalan di awal , tapi itu bisa membuat bangga dan menyenangkan. Nah, apa saja tantangan yang dihadapi oleh kadus dan peserta PERAK PARI?

CUACA & TRANSPORTASI

Cuaca menjadi perhatian pertama dan utama karena memang waktu penyelenggaraan masih dalam masa musim penghujan. Berita tentang puncak musim hujan dan banjir menjadi salah satu kekuatiran peserta. Satu-dua keluarga bahkan sempat mempertimbangkan untuk membatalkan keikutsertaan atau memutuskan menjelang keberangkatan. Wajar saja, dibutuhkan pendapat dan informasi untuk membuat hati mantap.


Keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama panitia. Panitia juga terus berdiskusi tentang _safety_ dengan pakar tanggap bencana yang memang juga menjadi peserta PERAK pulau Pari. Sejak 3-4 bulan sebelumnya, team panitia sudah memantau prakiraan cuaca sejangkau yang bisa aplikasi cuaca pantau. Pak Kadus pun intens berkomunikasi dengan orang lokal, baik di pulau Pari maupun di dermaga pemberangkatan, Tanjung Pasir menanyakan cuaca dan curah hujan. Bahkan, untuk menyamakan persepsi '(angin) gelombang dan hujannya biasa-biasa saja' menurut orang lokal, beberapa team bolak-balik ke pulau Pari. Sehari sebelum pelaksanaan, Pak/Bu Kadus dan sebagian Team GERAK berangkat lebih dulu membawa perlengkapan dan untuk mempersiapkan pelaksanaan esoknya. Mereka sempat merasakan gelombang yang tidak biasa - karena pas mendung dan hujan. Dan, sepertinya mereka menikmati..



Tantangan berikutnya adalah transportasi darat dan laut. Beberapa keluarga dari luar Tangerang mungkin baru pertama kali menuju titik pertemuan, dermaga Tanjung Pasir. Mereka  sudah searching-searching mencari tahu berapa lama waktu tempuh dibutuhkan dari rumah. Beberapa keluarga berpatungan menyewa taksi online. Yang membawa kendaraan pribadi, dan masih ada seat luang menawarkan kepada keluarga lain untuk nebeng. Yang terakhir ini termasuk keluarga #doyandolan. Dengan guyub seperti ini, kami berangkat menuju pulau sesuai jadual yang disepakati.


Awalnya, pemberangkatan terbagi dalam 2 sesi, pagi dan siang. Namun, berdasarkan pertimbangan makin sore gelombang makin tinggi, diputuskan keberangkatan ke pulau hanya satu kali, yaitu pkl 10. Rasanya, baru di PERAK dusun Pari ini semua peserta datang serempak bersamaan. Ya, iyalah...wong satu kendaraan kapal!


Oh...2 keluarga dan 1 kepala keluarga sengaja menyusul keesokan harinya karena ada urusan yang tak bisa ditunda dan mesti diselesaikan. Mereka pun menyewa kapal sendiri, dan nampak berseri ketika sampai di pulau Pari.


Salut, ah!



ACARA & AKOMODASI

Menyusun acara dengan kondisi lingkungan yang berbeda dari acara-acara sebelumnya merupakan tantangan tersendiri. Roundown acara bisa jadi sama, tetapi mengadakan cara di pesisir pantai memerlukan fleksibilitas pada waktu dan tempat. Biasanya ketika peserta tiba lantas dipersilakan makan siang dan istirahat sebentar, acara langsung dimulai dengan selayang pandang PERAK dan perkenalan. Di dusun Pari, mengingat energi para peserta sudah terkuras di perjalanan laut selama 2 jam dan kemudian memilih lokasi serta mendirikan tenda, acara baru dimulai ba'da Ashar.


Jeda 2-3 jam tersebut juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk langsung menceburkan diri ke pantai. Anak-anak memang suka bermain air, dan melihat air pantai membentang membuat mereka tak berpikir panjang untuk mengambil keputusan berenang. Memang, sejak awal anak-anak diberitahu tentang serunya bermain air di pantai.


Aula pertemuan didirikan di depan warung sebagai pusat logistik sehingga diharapkan selama ngobrol dan diskusi aliran logisyik tetap berjalan sehingga logika tetap lancar, he..he... Di sebelahnya juga tersedia coffee cafè dengan dua barista dan baristi siap melayani permintaan dengan berbagai macam jenis kopi dan genre seduhan. Mantap, pokoknya!


Sayangnya, di bawah aula udara terasa gerah di siang hari. Akhirnya, atas kesepakatan bersama, diputuskan pertemuan perdana dipindah ke tepi pantai, berdekatan dengan tenda. Disini ngobrol dan diskusinya lebih nyaman sambil menikmati desiran sepoi-sepoi angin pantai. Jadinya, semua pertemuan, ngobrol dan diskusi, atau tacit dilakukan di tepi pantai. Jika, membutuhkan  presentasi slide, pertemuan baru dilakukan di aula.


Tantangan selanjutnya adalah kamar mandi. Saat pertama kali survey, fasilitas ini mendapat perhatian dan disarankan untuk dibersihkan dan ditambah untuk mengurangi antrian. Persediaan air tawar pun dipastikan lancar. Alhamdulillah, tidak terlalu banyak kendala. Apalagi saat itu, wisatawan yang bermalam di pulau Pari tidak banyak seperti biasanya. Bahkan cenderung sepi. Jadi, seperti memiliki pulau sendiri.


Kalau di hari biasa setiap pemakaian kamar mandi atau toilet oleh para wisatawan akan dikenakan biaya. Peserta PERAK dusun Pari memiliki previllege khusus saat menggunakan fasilitas ini. Mereka bisa memanfaatkan semua kamar mandi/toilet tanpa dikenakan biaya dengan menunjukkan gelang pengenal sebagai peserta PERAK. 


Keren kan?



ANAK-ANAK

Di PERAK ada kategori untuk anak-anak. Ada yang namanya GERAK, Generasi Remaja PERAK yang berusia dari pre-aqil baligh. Generasi ini biasanya sudah mandiri dan telah memiliki rencana dan kegiatan mandiri. Jadi, sudah tidak perlu diawasi oleh ayah bundanya. Bahkan mereka cenderung memilih berkegiatan terpisah dengan orang tua.


Anak-anak dengan kategori usia dibawah 10 tahun,  terutama balita, masih membutuhkan pengawasan orang tua. Dan mudah rewel kalau suasana lingkungan, misalnya makanan atau mainan, tidak 'berpihak' pada dirinya. Yang tadinya suka-suka bermain pasir dan air, tiba-tiba merengek minta pulang. Eiitt!... Kita bagai diasingkan di pulau ini. Minta pulang adalah persoalan besar, he..he... Malam pertama tidur di pantai menjadi persoalan bagi anak-anak ini. Udara malam yang gerah di dalam tenda membuat beberapa anak rewel dan menangis. Satu-dua anak terdengar minta pulang. Untung saja, para ayah bunda kompak bergantian ngemong anak-anak ini. Luar biasa memang ayah bunda mereka...


Tantangannya adalah bagaimana menjaga dan membuat mood mereka selalu riang, gembira, dan excited di pulau ini. Nah, perlu dibuat kegiatan dan permainan yang membuat mereka nyaman dan merasa di rumah. Untuk itu perlu dibuat semacam Kids Corner yang dipandu oleh mereka yang mengetahui dan menyayangi anak-anak. Team Panitia sudah jauh-jauh hari menghubungi keluarga Budiman untuk menangani kids corner ini. Dan rupanya anak-anak sangat menikmati kegiatan dan permainannya. Buktinya, di malam kedua mereka bisa tidur dengan nyenyak dan tenang...:)


Tentang Kids Corner silakan dibaca lanjutan di kisah kesan berikutnya...


(bersambung)

104 views0 comments

Recent Posts

See All