KELUARGA KERUNTELAN


Yippie! Akhirnya nulis di blog PERAK juga. Hihihi.

Ini adalah tulisan pertama kami tentang nama keluarga kami di media sosial. Sengaja nulisnya di blog PERAK karena memang disinilah moment 'hmm' bagi keluarga kami untuk memikirkan kembali nama keluarga. Sampai akhirnya menemukan moment 'aha' pun juga dari inspirasi keluarga-keluarga PERAK. Hehe.


Baiklah, lemme start from the previous name of our family.


Pada tahun 2017 awal, tepatnya saat mengikuti workshop FSP di PSJ UI, kami bertemu Pak Dodik dan Mas Elan, juga beberapa guru yang lain seperti Ust. Harry Santosa dan Kang Firman. Dari sinilah awal mula kami memikirkan nama keluarga, dan muncullah nama "StarHomeTeam". Dengan filosofi yang sudah pernah kami share juga di group whatsapp PERAK, kami memakai nama tim keluarga tersebut kemana-mana, meskipun rasanya ada sedikit kehampaan di dalamnya. #tsaah. Sampai akhirnya saat mengikuti PERAK 2018 kemarin, ada sebuah sesi (yang sebenarnya hanya sebentar tapi jadi menohok kami berdua, haha), tentang Family Branding. Saat ditanya, apa nama keluarganya? Kami menjawab dengan bercampur perasaan ragu dan tidak percaya diri. Kemudian, saat peserta ditanya keluarga siapa yang brandingnya sangat kuat? Dan hampir semua kompak menjawab : keluarga #doyandolan. And yes, it is!. Keluarga doyandolan ini kegiatannya benar-benar mencerminkan karakter namanya: senengane dolan, silaturahim and share. Selain itu, ada juga keluarga #omahproject yang memang sering dan sukanya bikin project. Ah, bener-bener ya keluarga-keluarga PERAK ini membanggakan!

Nah, sepulang dari PERAK, kami banyak membahas tentang keluarga-keluarga yang semuanya inspiring. Kami juga berefleksi, "bener nggak sih kita pengen keluarga kita seperti star? Yang punya cahaya sendiri, punya keunggulan di bidang masing-masing?" Hmm, ya bener sih, tapi sampai saat itu, kami merasa poin tsb bukan kami banget, belum gue banget. Beberapa hari, bahkan minggu (atau bulan ya) kami masih sering ngobrol tentang keluarga-keluarga keren. Tiap liat sampah, ingetnya ke SAC dan omah xpresi, hehe. Pas mau pergi silaturahim kemana tapi agak berat, keingetan doyan dolan. Teruuus aja sampai akhirnya dalam suatu perjalanan, terjadi sebuah obrolan sederhana antara saya dan suami, yang kurang lebih seperti ini (agak lupa-lupa ingat persisnya, hehe):


Suami: "Bunda, habis ini mau cuci mobil dulu ya. Bunda mau pulang atau ikut aja?" (bertanya dengan niat mengajak, wkwkwk)


Saya: "Ikut aja lah, ngapain di rumah sendiri. Enakan juga keruntelan."

Suami: "Hehe.."


***(diam beberapa menit)***


Saya: "Eh ayah, nama keluarga kita keruntelan aja kalau gituu."

Suami: "Emang keruntelan itu artinya apa?"

Saya: "Ya ngeruntel aja senengnya, ngumpul terus, bareng-bareng terus."


***(masing-masing mulai merenung)***


Hingga beberapa hari belum deal juga nama itu, tapi sebenarnya kami membenarkan fakta bahwa kami sukanya ngeruntel. Hehe. Mau potong rambut, pergi bertiga. Mau nyuci motor, nyuci mobil, isi bensi, perginya bertiga. Bahkan mau beli telor aja di warung, kalau bisa bertuga ya pergi bertiga, sekalian jalan-jalan muterin komplek. Bukan sekali dua kali juga, saat ada acara gathering di kantor suami, dimana gak adaaaa satu pun temannya yang ngajak keluarga, suami dengan pede dan bangganya ngajak saya dan Althaf. Laaff bangeet kaan. Hehe.


Well, itulah kenapa akhirnya kami memutuskan nama keluarga kami #keruntelan, yang artinya senang melakukan sesuatu bersama-sama dengan bahagia. Because when we're doing something fun not in a full team, misal salah satu aja gak ikut, kebahagiaan kami terasa kurang. Rasanya ada satu sudut hati yang hampa. #eaa. Tagline keluarga kami pun tak jauh-jauh dari arti #keruntelan itu sendiri: #bahagiaberbagibersama. Kami bahagia jika bersama, kami bahagia jika bisa berbagi, dan kami bersama senang berbagai kebahagiaan. Yeaayy. Salam #keruntelan.


Selamat ngeruntel bersama keluarga tercinta!


72 views0 comments

Recent Posts

See All